14.6.13

Takut (Kehilangan)

Tiba-tiba kau kehilangan cara untuk memejamkan mata. Kehilangan jalan menuju tangga malam dan memetik pejam. Seperti sesuatu yang terombang-ambing tak tentu arah. Kemudian kau memberanikan diri untuk mengungkapkannya. Mengatakan padanya. Bahwa sebenarnya kau sedang takut.

Ia biasa saja menanggapimu. Seperti tidak ada apa-apa. Karena ia memang mengenalmu sebagai sosok dengan mata yang selalu gelisah.

Kau berusaha mengatakan padanya bahwa yang kau rasakan saat ini sungguh berbeda. Rasa ini bukan rasa yang sama dengan yang telah lama ia kenal. Bukan gelisah yang sama dengan yang selama ini tinggal di matamu. Rasa ini adalah takut yang akut.

Tapi kau kehilangan kemampuan bicara. Kau tersesat dalam rimba tanpa suara. Hanya mata yang tak kunjung pejam. Nafas yang terhempas tak beraturan. Jantung yang kehilangan iramanya. Dan kau terdiam di atas tungku malam yang semakin menyala tak kunjung padam.

Kau takut dan terus ketakutan.

19.5.13

Jejak Rindu #1

aku ingin mencintaimu
secara sederhana
seperti hujan yang turun
dari pagi hingga petang
meresap dan menggenang
di dasar hatimu yang terdalam

7.2.13

Mengenang


Kereta sudah menunggu. Ketika perempuan itu masih sibuk mengikat tali sepatuku. Membentuk simpul yang benar. Mengencangkannya berulang lagi. Seolah tahu, kereta akan membawaku pergi jauh. Memungut usia di sepanjang perjalanan. Dan pulang, pada petang yang mungkin tak menyisakan senyum di wajahnya.

Kereta menjerit melengkingkan sunyi. Menandai perjalanan panjang yang melelahkan dan menghabiskan banyak usia akan segera di mulai. Wajahku yang dilukis jendela kereta, tangannya yang lupa bagaimana caranya melambai, serta matanya yang pandai menyimpan air mata tetap rapi, membuatku untuk pertama kalinya mengenal apa itu diam, tangis, dan sepi.

Kereta masih melaju melewati lorong-lorong waktu. Luka mulai menganga di baju dan sepatuku. Tapi ikatan dari tangan perempuan itu, benar-benar kencang dan tak ada tanda-tanda akan terlepas. Meski aku tak tahu kapan kereta akan berhenti, apalagi kembali.

Perempuan itu sudah tahu sejak dulu, tentang kereta yang bersuara sunyi, tentang perjalanan dan usia dan petang dan aku dan senyum di wajahnya yang akan hilang sebelum aku dikembalikan waktu. Untuk itu, ada tangis yang disimpannya di balik pintu. Dibiarkan menggantung layaknya baju, berharap air mata akan kering suatu saat. Oleh angin atau waktu.

4.2.13

Pelukan


Pernah dulu, kau memberiku tanpa jeda. Sebuah pelukan yang menenangkan. Berwarna hujan dan menenangkan. Seindah malam yang melelapkan. Membuatku menjadi anak kecil yang tetap baik. Meringkuk diam dalam ketaatan. Menjauh dan memejam dari segala kemaksiatan. Entah malam, entah siang. Pelukmu tak sedikitpun meregang. Meski sesekali kau menatapku dengan tajam, tapi tentu itu bukan sebuah kebencian, hanya sebuah teguran. Kadang, kau memang menunjukkan kasih sayang dengan cara yang berbeda-beda: dengan teguran, lewat ujian atau sebuah pelukan.

Sebuah pelukan. Mungkin itu yang aku rindukan saat ini.

29.1.13

Kisah Tak Bahagia


Sebuah kisah
Aku temukan dan aku baca
Dalam langkah menapaki tangga takdir

Sebuah kisah
Judulnya tak bahagia

Prolognya adalah sebuah kesendirian
Kesepian yang melahirkan anak-anak rindu
Tumbuh dan besar menjadi pilu
Karena waktu terus berputar tanpa ada temu

Kemudian
Setiap huruf menangis bertutur air mata
Setiap kata meringis bergaris luka
Setiap kalimat meronta menebalkan duka

Kisah ini
Benar-benar tak bahagia
Tak kuasa aku melanjutkannya
Segera aku berhenti membacanya
Menutupnya
Meninggalkannya

Tamat