27.2.11

Tentang Seorang Lelaki

Suatu saat, jika aku ditanya tentang salah satu lelaki yang paling aku kagumi, maka aku akan menyebut namamu, dengan bangga! Kelak juga, saat aku telah menjadi seorang ayah, dan memiliki seorang anak, atau kelak jika aku telah menjadi seorang kakek, dan memiliki seorang cucu, sebelum aku bercerita tentang lelaki-lelaki hebat yang aku kenal lewat beberapa buku biografi, seperti Soekarno, Einsten, ataupun Hitler, maka aku akan bercerita tentang seorang lelaki hebat yang aku kenal bahkan saat aku belum mengenal dan dikenal siapapun.

Seorang lelaki yang aku kenal lewat hati.

Kau hebat. Seperti Musa yang telah membelah lautan, dengan membawa seluruh keluargamu ’hijrah’ mencari sebuah negeri dengan tujuan yang sederhana ;dimana mereka yang kau bawa, anak-anak serta istrimu, memiliki ladang untuk menanam mimpi. Karena dimasa—dimana kau hidup, ditempat—dimana kau dilahirkan, tidak ada ladang untuk digarap, tidak ada mimpi untuk ditanam. Terlalu keras. Terlalu gersang. Hidup (yang baik) mustahil untuk dilanjutkan dimasa dan ditempat dimana kau pernah berada. Maka lautan, kau belah, kau seberangi, dengan tujuan yang amat sederhana ;menanam mimpi!!


Kau tangguh. Seperti Ibrahim yang telah membunuh malam dalam sebuah perjalanan panjang untuk menemukan ‘mata air’ agar mampu menggantikan ‘air mata’ yang telah habis oleh panjangnya kemarau dalam kehidupanmu. Musim tidak pernah terganti di rotasi hidupmu. Kau lahir dimusim kemarau. Kau besar ditengah kemarau. Maka tekadmu, pantang mati dengan meninggalkan istri dan anak-anakmu dimusim kemarau! Kemudian kau bekerja keras, membanting tulang memeras keringat, demi merubah musim yang selalu kemarau dalam hidupmu. Sulit memang. Jelas tidak gampang. Apalagi kau bukanlah orang ‘pintar’. Jangankan ‘pintar’, untuk membaca dan menulis saja kau tak pernah bisa karena tak pernah diajari. Tapi kau tangguh. Musim tetap harus berganti, paling tidak untuk masa depan anak-anakmu kelak.

Walaupun mereka yang sejak dulu kau perjuangkan, kini telah berani mengangkat wajahnya dihadapan dunia, menatap berani ke wajah matahari, memiliki banyak sekali benih-benih mimpi, dan telah hidup dimusim yang selalu berganti, kau tetap tak mau berhenti dari perjuangan. Bahkan saat tubuhmu telah semakin rapuh, karena usiamu yang telah sepuh, kau tetap tak memilih berdiam diri memangku tangan. Bagimu, selama nafas masih kau hirup, selama itu pula seorang manusia masih memiliki tugas menggarap dunia.

Kau bukan gila kerja sebenarnya. Apalagi gila harta. Semua yang telah kaulakukan, aku yakin, bukan semata-mata karena harta. Hanya saja, kau tidak tahu bagaimana menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat, untuk memberi nasehat kepada anak-anakmu. Maka, nasehat terbaik yang kau berikan adalah sebuah contoh, suri tauladan, sebuah paradigma, tentang: bekerjalah untuk duniamu seakan kau akan hidup selamanya.

Dan kau sakit kini.

Kini, seharusnya aku ada disampingmu, menyediakan untukmu sebuah bangku panjang agar kau dapat duduk menikmati sore yang indah, mengaduk secangkir kopi untukmu agar kau dapat mengenang kembali pahitnya hidup dan manisnya perjuangan, membenarkan letak syal dilehermu agar tubuhmu yang telah puluhan tahun selalu didekap angin dingin tidak menjadi semakin rapuh dan ringkih, agar kau tetap dapat kembali memasuki rumah yang telah kau bangun dengan susah payah, menuju sebuah kamar, dimana kau tidak pernah melupakanNya.

Lekas sembuh, ayah. Aku bangga menjadi anakmu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar